Haris (Putra Alm Aris Wintorojati) nomor 4 dari kanan, bersama teman-teman almarhum di Balikapapan.
Di sebuah kota kecil di Mojokerto, hiduplah Haris, pemuda yang tumbuh bersama ibunya dan seorang adik yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Sejak lahir, Haris tidak pernah sempat bertemu ayahnya, almarhum Bapak Aris Wintorojati, yang wafat ketika Haris masih dalam kandungan. Namun keteguhan dan semangat sang ayah seolah melekat dalam dirinya.
Haris menapaki jalan hidupnya dengan tekad kuat. Ia menuntaskan pendidikan di Akademi Pelayaran dan mulai bekerja di bagian transportasi di Balikpapan. Tak disangka, tempat kerjanya justru mempertemukannya kembali dengan jejak ayahnya. Di wilayah Kodam VI/Mulawarman, ia dipertemukan dengan banyak rekan almarhum yang mengenal keluarganya dengan baik. Bahkan lebih mengejutkan, ternyata tempat kerjanya tidak jauh dari Manggar satuan tempat ayahnya dulu bertugas.
Kesan pertama ketika bertemu Haris: ia tampil percaya diri, lugas, dan memiliki keberanian yang mengingatkan banyak orang pada sosok ayahnya. Ketika dipertemukan dengan Bapak Pangdam dan Kasdam, Haris tidak sedikit pun menunjukkan keraguan. Sikapnya tegas, sorot matanya mantap.
Ke depan, Haris bercita-cita bekerja di Surabaya agar bisa lebih dekat membantu ibu dan adiknya. Teman-teman satu paviliunnya pun banyak yang menanyakan kontak Haris—pertanda bahwa ia mudah disukai dan membawa energi positif bagi orang di sekitarnya.
Kami percaya, dengan keteguhan langkah dan hati yang matang, Haris sedang berjalan menuju masa depan yang besar. Semoga ia tumbuh menjadi salah satu pemimpin bangsa yang mewarisi keberanian ayahnya.